ADV Honda

Tak Ingin Bahasa Gorontalo Tergerus Zaman, Pemkot Dorong Gerakan Mohulonthalo di Sekolah

35
×

Tak Ingin Bahasa Gorontalo Tergerus Zaman, Pemkot Dorong Gerakan Mohulonthalo di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Promo Digimedia
Iklan akan Menutup Dalam 10 detik
Foto bersama jajaran Pemerintah Kota Gorontalo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta peserta kegiatan peluncuran Gerakan Mohulonthalo dan Satu Sekolah Satu Karya Budaya.

DIGIMEDIA.ID – Pemerintah Kota Gorontalo mendorong penggunaan bahasa Gorontalo di sekolah melalui Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo untuk menjaga bahasa daerah di tengah modernisasi.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, khususnya di lingkungan pendidikan.

Honda Krida Shine Effect
Honda Krida

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husin Ali, mengatakan gerakan itu disusun bersama Kantor Bahasa.

Menurutnya, penggunaan bahasa Gorontalo perlu dibiasakan kembali di lingkungan sekolah dan pemerintahan agar tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Pemerintah Kota Gorontalo nantinya mendorong penggunaan bahasa Gorontalo, khususnya setiap Selasa dan Kamis di sekolah serta kantor pemerintahan.

Husin menyoroti kebiasaan masyarakat Gorontalo yang dinilainya kerap menyesuaikan bahasa ketika berhadapan dengan masyarakat dari daerah lain.

“Kalau di Sunda sana, kita datang, kita menyesuaikan dengan orang Sunda. Di Jogja kita menyesuaikan dengan orang Jogja.”

Ia melanjutkan, masyarakat di daerah tersebut tetap menggunakan bahasa daerahnya ketika berinteraksi dengan pendatang.

“Tapi beda dengan kita orang Gorontalo,” kata Husin saat Peluncuran Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo berlangsung di SDN 99 Kota Utara, Jumat (28/8/2026).

Gerakan Mohulonthalo tidak berdiri sendiri. Pemkot Gorontalo juga meluncurkan gerakan Satu Sekolah Satu Karya Budaya.

Program tersebut diarahkan untuk menguatkan pengenalan budaya daerah melalui proses pendidikan di tingkat TK, SD hingga SMP.

Setiap sekolah diarahkan memiliki satu karya budaya Gorontalo yang dikembangkan dan diajarkan kepada peserta didik.

Sekolah dengan kapasitas lebih besar dapat mengembangkan maksimal dua karya budaya dalam pelaksanaan program tersebut.

Kebijakan itu telah dituangkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Gorontalo.

Menurut Husin, langkah tersebut juga menjadi bagian dari respons terhadap kebiasaan anak-anak yang semakin lekat dengan gadget.

Ia menilai sekolah perlu menyediakan ruang agar anak-anak kembali mengenal lingkungan serta budaya daerahnya.

“Jawaban atas kegalauan Pak Wali dan Wawali soal pemanfaatan gadget, salah satunya adalah gerakan satu sekolah satu karya budaya,” ujar Husin.

Selain memperkuat budaya, kebijakan tersebut berkaitan dengan sistem penerimaan murid baru yang diterapkan Pemerintah Kota Gorontalo.

Sistem itu diarahkan untuk mendekatkan anak dengan sekolah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.

Husin ingin tidak ada lagi anggapan bahwa terdapat sekolah tertentu yang lebih baik dibandingkan sekolah lainnya di Kota Gorontalo.

“Kami ingin memastikan bahwa semua sekolah di Kota Gorontalo adalah pilihan terbaik,” katanya.

Menurut dia, sekolah yang unggul harus dapat ditemukan di berbagai wilayah Kota Gorontalo.

Ketika anak bersekolah lebih dekat dengan tempat tinggal, waktu yang dimiliki juga dinilai lebih longgar untuk beristirahat dan berinteraksi bersama keluarga.

Bagi Husin, modernisasi tidak boleh membuat anak-anak kehilangan identitas daerahnya.

Anak-anak Gorontalo tetap didorong berkembang dan mengejar prestasi hingga tingkat nasional maupun internasional.

Namun, mereka juga diharapkan tetap mengenal bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas.

“Walaupun anak-anak kita sudah hidup di zaman modern, berpikir untuk go nasional bahkan internasional, mereka tidak melupakan identitas mereka,” ujar Husin.

Husin mengajak guru, kepala sekolah, pengawas, penilik, serta jajaran pendidikan dan kebudayaan menjalankan kedua gerakan tersebut secara bersama-sama.(*)

UMGO