ADV Honda

Pemkot Gorontalo Ingin Budaya Lokal Tetap Hidup di Tengah Arus Modernisasi

80
×

Pemkot Gorontalo Ingin Budaya Lokal Tetap Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Promo Digimedia
Iklan akan Menutup Dalam 10 detik
Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel membuka peluncuran program Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo di SDN 99 Kota Utara, Jumat (28/8/2026).

DIGIMEDIA.ID – Pemerintah Kota Gorontalo mendorong pelestarian budaya lokal melalui lingkungan pendidikan agar identitas daerah tetap hidup di tengah perkembangan kota yang semakin modern.

Upaya itu ditandai dengan peluncuran program Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo di SDN 99 Kota Utara, Jumat (28/8/2026).

Honda Krida Shine Effect
Honda Krida

Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan gerakan pelestarian budaya tidak boleh berhenti sebatas seremoni peluncuran.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal, menggunakan, mencintai, hingga menghasilkan karya yang berangkat dari kebudayaan Gorontalo.

Indra mengatakan pelestarian kebudayaan bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah.

“Saya minta kepada seluruh pimpinan OPD jangan menyerahkan urusan kebudayaan hanya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Indra.

Ia menegaskan setiap organisasi perangkat daerah harus mengambil bagian dalam gerakan menjaga dan memperkuat identitas daerah.

Selain pemerintah, kepala sekolah dan guru juga diminta menjadikan lingkungan pendidikan sebagai ruang yang dekat dengan nilai-nilai budaya Gorontalo.

Melalui konsep satu sekolah satu karya budaya, setiap sekolah diharapkan dapat melahirkan karya kreatif siswa yang berangkat dari kekayaan budaya daerah.

Karya tersebut, menurut Indra, tidak hanya diharapkan dikenal di Gorontalo, tetapi dapat berkembang hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Ia juga menekankan pentingnya membangun generasi muda yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akar budayanya.

“Anak-anak kita harus mampu berkata, saya anak Gorontalo, saya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, keterbukaan terhadap dunia harus berjalan seiring dengan kemampuan generasi muda mengenal dan membawa identitas Gorontalo.

Salah satu perhatian dalam gerakan tersebut adalah penggunaan bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari dan ruang komunikasi masyarakat.

Indra mengajak para pemimpin daerah serta masyarakat mulai membiasakan penggunaan bahasa daerah sebagai bagian dari upaya menjaga identitas lokal.

Ia menilai bahasa daerah tidak akan bertahan jika hanya dipahami sebagai pengetahuan tanpa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak perlu menunggu fasih, tidak perlu takut salah. Sebab bahasa akan hidup kalau digunakan,” katanya.

Indra turut menyinggung pengalamannya ketika pernah tinggal di Gorontalo pada masa kecil dan mengenal sejumlah istilah serta penyebutan dalam bahasa daerah.

Menurutnya, perubahan penggunaan sejumlah istilah menjadi pengingat bahwa bahasa dan budaya perlu terus digunakan agar tidak perlahan ditinggalkan.

Ia mencontohkan istilah Tumbilotohe dan lebaran ketupat yang, menurutnya, perlu tetap mempertahankan identitas bahasa Gorontalo dalam penyebutannya.

Bagi Indra, pelestarian budaya tidak harus dimulai dari langkah besar, melainkan dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana di sekolah dan lingkungan pemerintahan.

Gerakan tersebut juga diarahkan untuk membangun kebudayaan perkotaan yang terbuka terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar pada tradisi lokal.

“Gorontalo tidak boleh hanya menjadi konsumen kebudayaan dunia. Gorontalo harus menjadi bagian dari bangsa yang ikut memberi warna kepada kebudayaan dunia,” tegasnya.

Ia berharap gerakan itu dapat membangun ekosistem kebudayaan yang terus hidup dan berkembang meskipun terjadi pergantian pemerintahan.

“Mulai dari hal yang sederhana: satu sekolah, satu karya budaya; satu pemerintah, satu komitmen kebudayaan; satu Gorontalo, satu identitas,” pungkas Indra.(*)

UMGO