KOTA GORONTALO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo menggandeng peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk membangun sistem informasi pengangkutan sampah guna memperkuat koordinasi dan pengawasan pelayanan.
Kepala DLH Kota Gorontalo Lukman Kasim mengatakan, sistem informasi tersebut menjadi salah satu target yang tengah disiapkan menjelang akhir 2026.
“Sistem informasi tersebut diharapkan dapat membantu DLH dalam memperkuat koordinasi dan pengawasan pelayanan pengangkutan sampah di wilayah Kota Gorontalo,” ungkap Lukman.
Pembangunan sistem informasi dilakukan ketika DLH juga menghadapi kebutuhan untuk menjaga kesinambungan pelayanan pengangkutan di tengah kondisi armada yang mengalami kerusakan.
“Target DLH adalah terjadi pemilahan di sumber dan penyelesaian sistem informasi pengangkutan sampah melalui kerja sama dengan pihak peneliti dari UNG,” lanjut Lukman Kasim
DLH Kota Gorontalo memiliki 54 unit getor, terdiri atas 50 unit yang ditempatkan di kelurahan dan empat unit berada di lingkungan DLH.
Selain itu, tersedia 16 unit dumtruck, delapan mobil pickup, empat arm roll, serta 28 unit viar yang digunakan untuk melayani pengangkutan sampah di wilayah kota.
Dari keseluruhan armada tersebut, sekitar 48 unit masih aktif beroperasi, sedangkan tujuh unit lainnya mengalami kerusakan.
Kerusakan armada dapat menyebabkan penumpukan sampah di sejumlah titik. Namun, DLH melakukan penyesuaian jadwal pengangkutan untuk menangani wilayah yang terdampak.
“Memang masih ada beberapa titik yang mengalami penumpukan sampah. Kondisi ini terjadi apabila ada armada yang rusak sehingga tidak beroperasi,” ujar Lukman.
Menurut dia, penumpukan tidak berlangsung lama karena DLH bersama pihak kelurahan melakukan antisipasi melalui pengaturan kembali jadwal pengangkutan sampah.
Data DLH mencatat potensi sampah di Kota Gorontalo mencapai sekitar 140 ton per hari jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mencapai 204.000 jiwa.
Dalam praktiknya, volume sampah yang tercatat setiap hari sekitar 96 ton. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 87 ton diangkut menuju tempat pembuangan akhir (TPA).
Sementara sekitar sembilan ton lainnya didistribusikan ke tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) dan Bank Sampah.
Pengelolaan melalui TPS3R dan Bank Sampah menjadi bagian dari upaya DLH mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa menuju TPA.
Saat ini, Kota Gorontalo memiliki 10 TPS3R. Namun, baru enam TPS3R yang telah beroperasi karena sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
DLH terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan untuk mendorong pengelola TPS3R meningkatkan aktivitas pengolahan sampah.
“Langkah awal yang dilakukan DLH adalah menetapkan pengelola TPS3R. Kemudian membangun koordinasi dengan pihak kelurahan agar terus mendorong para pengelola TPS3R dalam melakukan aktivitas pengolahan sampah,” jelas Lukman.
Selain memperkuat TPS3R, DLH mendorong pemilahan sampah dari sumber serta pembinaan masyarakat dalam pemanfaatan komposter.
Upaya memperbaiki sistem pengelolaan sampah juga dilakukan melalui pemetaan volume sampah di sejumlah wilayah dengan melibatkan mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UNG.
Lukman mengatakan, pemetaan tersebut dapat menjadi bahan untuk memperkuat koordinasi antara DLH dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan.
“Adanya pemetaan volume sampah yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.
Di sisi pelayanan, DLH mencatat enam pengaduan masyarakat terkait sampah yang tidak terangkut selama periode 1 hingga 18 September 2026.
Seluruh pengaduan tersebut telah direspons dan ditindaklanjuti oleh DLH. Aduan masyarakat juga menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pola pelayanan pengangkutan sampah di lapangan.
“Pengaduan masyarakat selama bulan September tentang sampah yang tidak terangkut sebanyak enam pengaduan. Itu pun pengaduan tersebut langsung diantisipasi,” katanya.(*)














