ADV Honda

Dinkes Gorontalo Perkuat Surveilans Kesehatan Ibu 2026

55
×

Dinkes Gorontalo Perkuat Surveilans Kesehatan Ibu 2026

Sebarkan artikel ini
Promo Digimedia
Iklan akan Menutup Dalam 10 detik
Pertemuan Pendampingan Surveilans dan Evaluasi Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga.

DIGIMEDIA.ID – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo memperkuat surveilans kesehatan ibu sebagai strategi percepatan penurunan angka kematian ibu pada 2026.

Penguatan tersebut disampaikan Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, dalam Pertemuan Pendampingan Surveilans dan Evaluasi Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA).

Honda Krida Shine Effect
Honda Krida

Kegiatan berlangsung di Hotel Amaris, Kota Gorontalo, Jumat (21/8/2026), dengan melibatkan 75 peserta dari tiga kabupaten.

Peserta berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, dan Bone Bolango.

Mereka terdiri atas pengelola program kesehatan ibu di Dinas Kesehatan, penanggung jawab aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), serta bidan koordinator Puskesmas.

Dalam paparannya bertajuk “Penguatan Surveilans dan Respons Kesehatan Ibu sebagai Strategi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu Tahun 2026”, Anang menekankan pentingnya penguatan surveilans.

Menurut dia, surveilans harus menjadi bagian dari pelayanan kesehatan ibu yang responsif dan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan keluarga berdasarkan siklus hidup.

Integrasi tersebut mencakup kesehatan remaja, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, bayi dan balita, hingga lanjut usia.

Anang menegaskan, surveilans kesehatan ibu tidak boleh berhenti pada pencatatan dan pelaporan.

“Data harus dikumpulkan, diolah, dianalisis dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menentukan respons dan tindakan nyata dalam mencegah kesakitan dan kematian ibu.”

Ia mengatakan, kualitas data menjadi salah satu fondasi utama dalam pelaksanaan program kesehatan.

Karena itu, desk review, verifikasi, monitoring, dan evaluasi perlu dilakukan secara konsisten untuk memastikan data menggambarkan kondisi pelayanan di lapangan.

Data tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kegiatan, intervensi, dan penganggaran berbasis data.

Anang juga mendorong perubahan paradigma surveilans, dari sistem yang berorientasi pada pelaporan menjadi sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan.

Dalam pendekatan tersebut, data tidak hanya dikumpulkan, tetapi harus diolah menjadi informasi dan segera diikuti respons yang tepat.

“Kita perlu mentransformasikan surveilans dari sekadar sistem pelaporan menjadi sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan.”

Menurut Anang, setiap data yang ditemukan harus mampu menunjukkan persoalan, lokasi risiko, serta respons yang perlu segera dilakukan untuk mencegah kematian ibu.

Ia juga menekankan pentingnya menjalankan siklus surveilans secara utuh, mulai dari notifikasi, deteksi, verifikasi, analisis, respons, monitoring, hingga evaluasi.

Melalui siklus tersebut, informasi mengenai kondisi kesehatan ibu diharapkan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan terukur.

Pendampingan ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengelola program kesehatan ibu, penanggung jawab MPDN, dan bidan koordinator Puskesmas.

Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mendukung peningkatan kualitas surveilans dan pemanfaatan data dalam perencanaan serta pelaksanaan intervensi.

Pada akhirnya, penguatan surveilans tidak hanya berkaitan dengan kualitas data, tetapi juga memastikan informasi kesehatan ibu berujung pada keputusan dan tindakan.(*)

UMGO