DIGIMEDIA.ID – Street Food Kota Gorontalo tidak hanya menghadirkan pusat kuliner malam yang bisa dikunjungi warga, tetapi juga menjadi ruang produktif bagi anak muda untuk mengisi waktu dengan aktivitas yang lebih positif.
Setiap malam, ruas jalan dari Rumah Adat Dulohupa hingga SMP Negeri 7 Kota Gorontalo dipenuhi pengunjung yang datang menikmati suasana, berburu kuliner, atau sekadar berkumpul bersama keluarga dan teman.
Lampu-lampu booth yang menyala, aroma makanan dan kopi yang memenuhi udara, serta aktivitas jual beli yang berlangsung hingga malam hari menciptakan suasana baru di kawasan tersebut.
Di tengah keramaian itu, banyak anak muda terlihat terlibat langsung dalam kegiatan usaha dengan membantu menjaga booth, melayani pembeli, mencatat pesanan, hingga mengelola transaksi penjualan.
Sebagian lainnya memanfaatkan kawasan Street Food sebagai tempat berkumpul bersama teman-teman dalam suasana terbuka yang ramai, tertib, dan menjadi alternatif aktivitas malam yang lebih bermanfaat.
Fenomena tersebut terlihat hampir setiap malam dengan kehadiran berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga yang menikmati waktu bersama.
Orang tua tampak mengajak anak-anak mereka berjalan menyusuri deretan booth, sementara kelompok anak muda memadati sejumlah titik yang menjadi lokasi favorit untuk berkumpul.
Beragam pilihan kuliner yang tersedia turut menjadi daya tarik utama, mulai dari kopi, minuman kekinian, makanan cepat saji, jajanan viral, hingga makanan tradisional yang tetap diminati masyarakat.
Perpaduan kuliner modern dan tradisional membuat kawasan Street Food mampu menarik pengunjung dari berbagai kelompok usia dengan latar belakang dan selera yang berbeda.
Selain menjadi ruang interaksi sosial, Street Food juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi pelaku usaha yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Berdasarkan rekap Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Kota Gorontalo, transaksi selama delapan hari pelaksanaan Street Food mencapai Rp665.411.752.
Hari pertama menjadi periode transaksi tertinggi dengan nilai mencapai Rp222.320.352, kemudian berlanjut pada hari kedua sebesar Rp158.408.900 dan terus bertambah pada hari berikutnya.
Sebanyak 297 pelaku usaha tercatat mendaftar dalam kegiatan tersebut, sementara 282 di antaranya aktif berjualan dan melayani pengunjung setiap malam.
Ratusan booth yang berjajar sepanjang kawasan menunjukkan bahwa ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha bagi masyarakat.
Kehadiran Street Food menghadirkan suasana baru di Kota Gorontalo, dengan kawasan yang sebelumnya relatif lengang pada malam hari kini berubah menjadi ruang publik yang hidup.
Di tengah capaian transaksi ratusan juta rupiah, Street Food tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga membuka peluang ekonomi serta menyediakan ruang positif bagi generasi muda Gorontalo.(*)














