KESEHATAN – Capaian pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita di Posyandu se-Gorontalo menembus 60,87 persen hingga September 2026. Angka tersebut jauh melampaui target nasional sebesar 55 persen.
Hasil ini menunjukkan pelaksanaan penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang anak melalui Posyandu di Gorontalo telah menjangkau lebih banyak balita dibandingkan target yang ditetapkan secara nasional.
Informasi tersebut disampaikan dalam Pertemuan Penguatan Pelayanan HIV pada Anak melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) bagi Dinas Kesehatan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2–5 November 2026.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak dalam memperkuat pelayanan Posyandu.
Penguatan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat provinsi hingga desa dan kelurahan. Koordinasi lintas sektor juga menjadi bagian dari upaya menggerakkan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Anang turut menyebut dukungan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk penguatan penyelenggaraan Posyandu.
“Sebagai contoh pada Rakorda Posyandu di Azlea Center kemarin (Selasa 3/11) Gubernur hadir langsung memberikan arahan,” kata Anang dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Selain dukungan pimpinan daerah, Anang mengapresiasi peran Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Gorontalo, Nani Mokodongan, yang turun langsung memberikan pembinaan di Posyandu 6 SPM.
Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor yang menopang capaian tersebut, yakni inovasi OPTALA, peran aktif kader Posyandu, serta pembinaan intensif Tim Pembina Posyandu Provinsi Gorontalo.
Dari sisi tata kelola, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo mengembangkan OPTALA atau Optimalisasi Tata Kelola e-PPGBM sebagai instrumen pemantauan dan evaluasi pelaporan kegiatan Posyandu secara berkala.
Inovasi ini mendorong perbaikan kualitas data melalui pemberian umpan balik rutin kepada Puskesmas di seluruh kabupaten dan kota. Dengan mekanisme tersebut, ketidaksesuaian data dapat diketahui lebih awal untuk segera diperbaiki.
Evaluasi bulanan juga digunakan untuk mengidentifikasi wilayah dengan capaian pelaporan rendah. Hasilnya menjadi dasar koordinasi, pembinaan, dan tindak lanjut bersama Puskesmas.
Penguatan tata kelola tersebut berjalan beriringan dengan pembinaan Tim Pembina Posyandu melalui koordinasi kelembagaan, peningkatan kapasitas kader, serta optimalisasi peran Posyandu sebagai pusat pelayanan masyarakat.
Anang menegaskan, keberhasilan pemantauan balita tidak hanya dilihat dari meningkatnya jumlah anak yang ditimbang dan diukur, tetapi juga kualitas pemantauan untuk mendeteksi lebih dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
“Keberhasilan Gorontalo bukan hanya karena semakin banyak balita yang ditimbang dan diukur, tetapi juga karena tata kelola data semakin diperkuat melalui OPTALA, pelayanan Posyandu terus digerakkan, dan pembinaan kelembagaan dilakukan secara intensif,” jelasnya.
Ke depan, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo bersama pemerintah kabupaten dan kota serta pemangku kepentingan berkomitmen mempertahankan dan meningkatkan capaian melalui penguatan kualitas data, konsistensi pelayanan, serta pembinaan kader.
Capaian tersebut diharapkan mendukung pencegahan stunting dan deteksi dini gangguan pertumbuhan maupun perkembangan anak, sehingga pemantauan kesehatan balita dapat dilakukan secara lebih optimal.(*)














