KESEHATAN – Sebanyak 30 tenaga kesehatan dari Kabupaten Boalemo dan Pohuwato mengikuti Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Gizi Buruk Terintegrasi yang digelar Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo.
Pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan dalam mendeteksi tanda bahaya penyakit, melakukan penanganan secara tepat, serta memberikan konseling bagi bayi dan balita guna mendukung upaya penekanan angka kematian anak.
Administrator Ahli Madya Suliyanti Otto selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan, peserta dibekali kemampuan melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan medis, hingga konseling terhadap bayi dan balita yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Pelatihan manajemen terpadu balita sakit atau MTBS dan tata laksana gizi buruk ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dari tenaga kesehatan di dalam melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan dan juga melakukan konseling pada balita sakit,” ungkap Suliyanti, Jumat (30/10/2026), di Hotel Amaris, Kota Gorontalo.
Ia berharap kompetensi yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara mandiri oleh peserta di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama untuk mengenali tanda bahaya dan menentukan intervensi yang diperlukan sejak dini.
Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan ini juga berkaitan dengan target penurunan Angka Kematian Balita (AKABA) Provinsi Gorontalo pada 2026 sebesar 13,8 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data hingga Oktober 2026, AKABA di Gorontalo tercatat sebesar 8,2 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih berada di bawah target yang ditetapkan untuk tahun ini.
Selain kemampuan pemeriksaan dan penanganan medis, pelatihan MTBS Gorontalo juga menekankan pentingnya konseling serta edukasi kepada orang tua atau keluarga sebagai bagian dari pelayanan kesehatan anak secara menyeluruh.
Materi pelayanan mencakup bayi muda berusia kurang dari dua bulan serta balita berusia dua bulan hingga lima tahun. Dengan pembekalan tersebut, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pelayanan sesuai kebutuhan kelompok usia anak.
“Harapan pada pertemuan ini adalah ke depannya mereka dapat menekan terjadinya kematian balita. Tujuannya adalah mereka secara mandiri bisa melakukan sejak dini penilaian dan klasifikasi sehingga dapat menemukan tanda bahaya pada balita sejak dini dan kemudian melakukan intervensi sejak dini pula,” jelas Suliyanti.
Pelatihan dilaksanakan dengan metode blended learning, yakni kombinasi pembelajaran daring dan tatap muka. Sesi daring berlangsung pada 19–25 Oktober 2026, dilanjutkan pembelajaran luring pada 26–30 Oktober 2026.
Para peserta berasal dari 10 puskesmas di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato. Mereka terdiri atas dokter, bidan, perawat, dan nutrisionis yang masing-masing mewakili lima puskesmas di kedua kabupaten tersebut.(*)














