Scroll Untuk Tutup Iklan
Pendidikan

Jadi Narasumber di TVRI Gorontalo, Rektor UMGO Jelaskan Peran Pendidikan dalam Penanganan Stunting

207
×

Jadi Narasumber di TVRI Gorontalo, Rektor UMGO Jelaskan Peran Pendidikan dalam Penanganan Stunting

Sebarkan artikel ini
Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) Prof. Abd. Kadim Masaong, M.Pd., menjadi narasumber di Stasiun TVRI Gorontalo

DIGIMEDIA.ID – Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) Prof. Abd. Kadim Masaong, M.Pd., menjadi narasumber dalam wawancara Gorontalo Menyapa yang mengangkat tema “Peran Universitas Pada Percepatan Penurunan Stunting” di Stasiun TVRI Gorontalo, Kamis (25/8/2023).

Prof Kadim menyampaikan, keluarga wajib memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai bagaimana mendapatkan dan memberikan nutrisi pada anak. Nutrisi tidak harus mahal, yang terpenting adalah kualitasnya.

“Jadi, pendidikan gizi bagi orang tua sangat penting guna mencegah stunting. Pentingnya kita memahami bagaimana cara pencegahan stunting pada anak sedari awal.

Apalagi, belakangan ini isu stunting sedang hangat diperbincangkan banyak orang, khususnya para ibu sesuai data yang ada tahun 2020 Gorontalo peringkat 20 kasus stunting masih ada dua tingkat dari rata-rata nasional.

Kalau dilihat dari kabupaten/kota yang tertingi kasus stuntingnya adalah kabupaten gorontalo mencapai 38% dari kabupaten yang lain, tentu ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat Gorontalo,” jelasnya.

Meski begitu, upaya menekan angka stunting pun terus dilakukan tidak hanya bidang pemerintahan tetapi juga perguruan tinggi (PT) mangambil peran untuk menuntaskan persoalan stunting.

“Kasus stunting menjadi tanggung jawab kita bersama maka kalau ditanya peran, kebetulan UMGO memiliki fakultas kesehatan yang memiliki prodi kesehatan dan kebidanan dimana paling banyak terlibat langsung adalah kebidanan dan saat ini kita mengusulkan prodi Kedokteran dengan tema pencirinya Gizi Ibu dan Anak, karena setelah kita melihat data stunting di Gorontalo masih cukup tinggi maka stunting adalah penciri kedok UMGO yang Insha Allah tanggal 11 akan ada visitasi kelayakan tetapi secara adminstratif sudah memenuhi syarat tinggal menunggu evaluasi lapangan, mudah-mudahan kita berdoa Gorontalo ketambahan lagi satu fakultas kedokteran,” harapnya.

Lanjutnya, salah satu program yang kita laksanakan berkerjasama dengan Dinas Kesehatan dan BKKBN dalam penurunan stunting yaitu 1000 hari pertama kehidupan.

Ada 5 langkah yang dilakukan lakukan mulai dari pendampingan Ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun oleh mahasiwa kebidanan, mengamati perkembangan ibu selagi masa nifas pemberian asi ekslusif, pemberian makanan tambahan pada bayi 6 bulan ke atas, imunisasi serta melihat tumbuh kembang bayi sampai anak berusia dua tahun, dari hasil pendampingan sampai anak berusia 2 tahun dapat menurunkan stunting selama 5%.

“Selain itu kita ada KKN atau kalau di UMGO dikenal Kuliah Kerja Dakwah tematik yang mana ada MoU dengan BKKBN Gorontalo, mereka turun itu menyiapakan riset pengabdian kemudian mereka melakukan penyuluhan kesehatan.

Selanjutnya kita punya desa binaan yang setiap saat kita arahkan mahasiswa dan dosen kits untuk ke lokasi desa binaan.

Kita harus memperkuat masyarakat agar bagaimana memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarganya untuk melalui penguatan gizi,” tandasnya.

Prof. drh. Muhamad Rizal Martua Damanik, MRepSc.PhD., Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN RI, mengaku perguruan tinggi memegang peran strategis dalam upaya percepatan penurunan stunting karena PT banyak melakukan tiga pilar pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat jadi dengan melakukan pendidikan kita harapkan komunitas di perguruan tinggi paham tentang apa dan bagaimana itu stunting.

Selanjutnya ada penelitian berbagai prodi yang ada di PT memberikan kontribusi signifikan terkait penanganan stunting dalam melakukan kajian dan sebagainya, kemudian pengabdian selama ini kita sudah melakukan KKN tematik dengan PT dimana mereka memiliki program spesifik, mereka memberikan edukasi, komunikasi menyangkut penanganan stunting.

“Insha Allah jika ini ditingkatkan turus koordinasi dan konferensi kasus stunting bisa mencapai angka 14℅ pada tahun 2024. Salah satunya dengan koloborasi perguruan tinggi karena persoalan stunting ini adalah multi faktor dan multi sektor oleh karena itu penyelesaian juga termasuk dengan perguruan tinggi, pendekatan yang kita gunakan ini disebut pentahelix ada lima komponen yang pertama pemerintah, kemudian masyarakat, pihak swasta, perguruan tinggi dan media masa kita harus bersatu dan bersinergi mencapai target tersebut,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

UMGO