DIGIMEDIA.ID – Politik kebencian dinilai menjadi tantangan serius bagi kualitas demokrasi menjelang suksesi kepemimpinan nasional 2029 di tengah meningkatnya dinamika ruang publik digital.
Isu tersebut mengemuka dalam dialog “Negarawan Muda: Merawat Nalar Etika Politik dan Suksesi Kepemimpinan 2029” pada rangkaian Baitul Arqam Dasar PW Pemuda Muhammadiyah Gorontalo.
Dalam forum itu, Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo, Erwin Ismail, hadir sebagai narasumber dan menyoroti ancaman polarisasi, disinformasi, serta politik kebencian di era digital.
Menurutnya, tantangan politik ke depan tidak hanya berkaitan dengan perebutan kekuasaan, tetapi juga menjaga demokrasi tetap sehat dan berintegritas.
Praktik politik identitas, politik transaksional, serta pencitraan yang lebih dominan dibanding substansi disebut menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.
“Politik harus berintegritas, mengedepankan gagasan, dan mampu menjadi penyejuk demokrasi,” ujar Erwin yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dan Ketua Fraksi Partai Demokrat.
Politik kebencian juga dinilai dapat merusak tatanan sosial apabila terus berkembang tanpa diimbangi edukasi politik yang sehat di masyarakat.
Dalam perspektif komunikasi politik, penyampaian informasi disebut harus menjunjung kebenaran dan menolak hoaks maupun manipulasi informasi.
Dialog yang sehat dinilai menjadi salah satu kunci menjaga kualitas ruang publik demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain itu, etika politik juga disebut perlu dirawat melalui nilai kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Menjelang suksesi kepemimpinan 2029, pemimpin masa depan dinilai harus visioner, humanis, kolaboratif, digital-minded, dan tetap berpegang pada etika.
Generasi muda turut didorong aktif meningkatkan literasi digital, terlibat dalam diskusi kebijakan, hingga berpartisipasi langsung dalam proses politik.
Forum berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan terkait demokrasi digital dan regenerasi kepemimpinan nasional.
Pada kesempatan tersebut, Erwin Ismail, juga memberikan beasiswa pendidikan S2 kepada kader Muhammadiyah di Gorontalo sebagai bentuk dukungan pengembangan sumber daya manusia.
Kegiatan dipandu Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Gorontalo, Zainuddin, S.IP., M.AP., yang menegaskan dialog menjadi bagian penting proses kaderisasi ideologis dan intelektual.
Zainuddin menyampaikan bahwa Baitul Arqam tidak hanya berfungsi membentuk kekuatan ideologi, tetapi juga menumbuhkan nalar kritis kader dalam membaca arah politik bangsa.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Ketua Fokal IMM Provinsi Gorontalo, Ir. H. Anas Jusuf, M.Si., sebagai narasumber dalam forum diskusi.(*)













