Scroll Untuk Tutup Iklan
Pendidikan

Penutupan Pekerti, Rektor UMGO Harapkan Dosen Inovatif dan Kreatif

185
×

Penutupan Pekerti, Rektor UMGO Harapkan Dosen Inovatif dan Kreatif

Sebarkan artikel ini
Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) dan Applied Approach (AA) bagi Dosen Di Lingkungan Universitas Muhammadiyah Gorontalo bekerja sama dengan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

DIGIMEDIA.ID – Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) dan Applied Approach (AA) bagi Dosen Di Lingkungan Universitas Muhammadiyah Gorontalo bekerja sama dengan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Berlangsung di Gedung Indoor David Bobihoe Akib, selama 8 hari yang di mulai dari 3 November 2023 dan berakhir pada 11 November 2023.

Pasang Iklan Baris disini, Hub 085945868525
ADV
Pasang Iklan Baris disini, Hub 085945868525

Kegiatan penutupan ini dihadiri oleh Rektor UMGO, Prof. Abd. Kadim Masaong, Wakil Rektor I, Prof. Moon Hidayati Otoluwa, Kepala LPMBP, Prof. Dr. Hj. Elya Nusantari, M.Pd., Kepala LP3M. Dr. Thamrin Kum,M.Pd., Tim LP3M UMGO serta para peserta Pekerti dan AA.

Rektor UMGO, Prof. Kadim Masaong menjelaskan program Pekerti adalah salah satu program unggulan UMGO dalam rangka meningkatkan kemampuan mengajar bagi para dosen terutama yang berkaitan dengan pedagogi.

Dosen diharapkan semakin baik dalam merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengasesmen pembelajaran dan sebagainya.

“Tentu kami berharap dan ingin setelah pekerti ini, kemampuan pedagogi dosen semakin baik. Jadilah dosen yang dirindukan mahasiswa artinya ketika dosen itu tidak ada dicari-cari,..”

“Jadilah dosen yang disiplin jangan suka terlambat harus berusaha menjadi contoh bagi mahasiswa dan jadilah dosen yang inovatif dan kreativ untuk membentuk mahasiswa yang inovatif dan kreatif pula,” Tandasnya.

Disampaikan lebih lanjut, dosen memiliki peran untuk membentuk prilaku mahasiswa untuk siap berjuang dalam kondisi apapun.

Oleh sebab itu, selain kemampuan pedagogi, dosen juga harus memiliki kompetensi profesional, sosial dan kepribadian.

Kompetensi profesional ditunjukkan melalui kualifikasi pendidikan dan sosial dan kepribadian dikembangkan melalui aktivitas berkelompok, salah satunya outbound.

Hal senada disampaikan oleh Kepala LPMBP, Prof. Dr. Hj. Elya Nusantari, M.Pd., Ia mengatakan para peserta Pekerti dan AA begitu luar biasa dan antusias dalam mengikuti pelatihan.

“Kemarin saat baru mengikuti Pekerti bapak -ibu ibaratnya adalah dosen junior dan ketika telah mengikuti pelatihan bapak-ibu sudah menjadi dosen senior artinya bapak-ibu sudah diberikan bekal dalam melakukan pembelajaran ini adalah modal dasar,..”

“Walau agak rumit tidak masalah karena ini adalah langkah awal dalam menerapkan pembelajaran gang efektiv..”

“Alhamdulillah dari 55 peserta Pekerti yang bertahan smalai hari terakhir sebanyak 52 orang semoga apa yang didaptakan selama beberapa hari ini bisa bermanfaat dan dapat diimplementasikan dengan baik,” Harapnya.

Lanjutnya, Pekerti dan AA adalah salah satu sayarat bagi dosen untuk mendapatkan sertifikasi dosen dan di tahun ini UMGO memperoleh mandat sebagai tempat penyelenggara dan ini pertama kali dilakukan secara hybrid yang difasilitasi semua oleh UMGO.

“Tentu ini menurut saya luar biasa pelayann yang diberikan UMGO, terima kasih atas fasilitas dan pelayanan yang diberikan selama 8 hari ini..”

“Selamat telah mengikuti Pekerti dan AA dengan serius dan santai Insha Allah semua Akan sukses dan lolos pekerti dan AA,” Pungkasnya.

Ia juga menyinggung peluang tantangan dosen ke depan, yaitu tidak cukup menyampaikan knowledge atau pengetahuan mahasiswa, tetapi juga karakter.

Karakter kemungkinan akan lebih dominan dilihat dalam persaingam dunia kerja ke depan. Maka dari itu dalam mengajarkan mahasiswa ada dua kunci yang perlu diperhatikan oleh dosen.

“Pertama, harus mampu memfasilitasi peserta didik atau mahasiswa untuk menguasai pengetahuan dan kedua,..”

“Memfasilitasi untuk menjadi pribadi yang baik dan bijak. Jadi pengetahuan memang penting tapi karakter jauh lebih penting. Itu yang harus dirubah dalam paradigma di dosen,” Tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

UMGO