DIGIMEDIA.ID – Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi yang hanya sekitar empat jam tidak selalu membuat penetapan Idulfitri berlangsung serentak di kedua negara.
Perbedaan ini terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing pihak tidak selalu sama, meski berada dalam waktu yang relatif berdekatan.
Di Indonesia, pemerintah umumnya menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap bulan untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Metode ini dilakukan dengan melihat kemunculan hilal setelah matahari terbenam. Hasil pengamatan menjadi dasar penetapan awal bulan, termasuk 1 Syawal.
Di Arab Saudi, penetapan 1 Syawal juga menggunakan rukyatul hilal sebagai acuan utama dalam menentukan masuknya bulan baru.
Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Jika tidak terlihat, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.
Meski sama-sama menggunakan rukyat, perbedaan lokasi geografis dan hasil pengamatan dapat memengaruhi penetapan hari raya di masing-masing negara.
Perbedaan ini membuat Idulfitri tidak selalu dirayakan bersamaan, meskipun selisih waktu Indonesia dan Arab Saudi relatif singkat.
Di sisi lain, salah satu organisasi keagamaan Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi yang telah ditentukan jauh hari sebelumnya.
Metode hisab memungkinkan penentuan hari raya dilakukan lebih awal tanpa menunggu hasil pengamatan hilal secara langsung.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya merupakan hal yang biasa terjadi.
“Perbedaan adalah hal yang biasa dalam penentuan awal bulan Hijriah. Yang terpenting adalah menjaga kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati,” ujarnya.(*)














