ADV Honda

Bupati Gorontalo Sofyan Puhi Bakal Terima Gelar Adat Tertinggi ‘Pulanga’

32
×

Bupati Gorontalo Sofyan Puhi Bakal Terima Gelar Adat Tertinggi ‘Pulanga’

Sebarkan artikel ini
Promo Digimedia
Iklan akan Menutup Dalam 6 detik
Suasana Musyawarah Adat Dulohupa di Rumah Adat Banthayo Poboide, Limboto, yang menyepakati penganugerahan gelar adat tertinggi Pulanga kepada Bupati Gorontalo Sofyan Puhi.

KABGOR – Pemangku adat U Duluwo Limo Lopohalaa sepakat menganugerahkan gelar adat tertinggi Pulanga kepada Bupati Gorontalo Hi. Sofyan Puhi dalam Musyawarah Adat Dulohupa di Limboto, Jumat (9/10).

Kesepakatan yang berlangsung mufakat di Rumah Adat Banthayo Poboide tersebut menetapkan penganugerahan gelar kehormatan berdasarkan rekam jejak pengabdian serta karya nyata Sofyan bagi masyarakat Gorontalo.

Honda Krida Shine Effect
Honda Krida

Pulanga merupakan gelar kehormatan tertinggi dalam tatanan adat Gorontalo. Penganugerahannya tidak diberikan sembarangan, melainkan berpijak pada falsafah Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah.

Para pemangku adat menilai Sofyan memiliki ilomata atau karya dan pengabdian. Kiprahnya di legislatif, pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan, pendidikan, kesehatan, sosial, hingga keagamaan menjadi pertimbangan utama.

Pimpinan sidang musyawarah adat, Marten Taha, menjelaskan bahwa penilaian gelar ini dilandasi hasil karya sang bupati dan tidak harus menunggu masa jabatannya di pemerintahan selesai.

“Malah pemberian gelar adat di awal masa jabatan itu justru baik, karena dapat menjadi benteng diri dan pemagaran moral bagi pemimpin,” ujar Marten.

Rangkaian prosesi penganugerahan direncanakan berlangsung pada tanggal 17 bulan ini. Agendanya mencakup penyambutan adat, penyerahan busana adat, Tahuda dan Tahuli, serta doa bersama untuk pemimpin terdahulu.

Ketua Lembaga Adat Kabupaten Gorontalo, Subroto K. Duhe, menyampaikan seluruh rangkaian prosesi kini telah disepakati. Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Kota Gorontalo, Abdullah Paneo, mengingatkan pentingnya menjaga kekhidmatan.

Musyawarah adat di Banthayo Poboide tersebut melibatkan unsur Bate, hakim, kadli, imam, pemangku adat, hingga tokoh agama yang bersama-sama menimbang perjalanan pengabdian Sofyan Puhi.(*)

UMGO