KABGOR – Pengembang proyek karbon berbasis alam, Thryve.Earth, menawarkan peluang kolaborasi pemulihan lahan terdegradasi kepada Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Penawaran investasi hijau tersebut disampaikan langsung dalam pertemuan resmi di Rumah Jabatan Bupati Gorontalo, Selasa (13/10/2026).
Langkah ini bertujuan mendorong pemulihan ekosistem, mitigasi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kecil. Kerjasama tersebut berpotensi menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan melalui pengembangan model restorasi lingkungan yang terukur.
Salah satu pendekatan utama yang ditawarkan adalah restorasi lahan kritis menggunakan sistem pertanian berlapis atau agroforestri. Metode ini disiapkan untuk menggantikan tutupan rumput liar invasif yang rawan terbakar dengan vegetasi tangguh secara ekologis.
Model agroforestri ini memadukan tanaman kehutanan, perkebunan, hortikultura, hingga tanaman pangan secara terintegrasi. Pohon aren dan tanaman kayu ditempatkan pada kanopi atas, sedangkan alpukat, kopi, pisang, serta pepaya mengisi lapisan bagian tengah.
Sementara itu, permukaan tanah dimanfaatkan untuk tanaman jangka pendek seperti cabai dan jagung. Diversifikasi tanaman ini memungkinkan petani memperoleh pendapatan rutin dari berbagai komoditas yang memiliki masa panen berbeda-beda.
Guna memastikan hasil restorasi terukur dan transparan, Thryve.Earth menyiagakan teknologi pemantauan, pelaporan, dan verifikasi berbasis digital. Pemanfaatan kecerdasan buatan, Sistem Informasi Geografis, serta pemetaan satelit digunakan untuk mengukur penyerapan karbon secara akurat.
Data pengukuran digital tersebut menjadi pijakan penting dalam penerbitan kredit karbon berkualitas tinggi. Skema ini membuka jalan menghubungkan pemulihan lingkungan di Gorontalo dengan pasar karbon global dan skema pembiayaan iklim dunia.
Sebagai referensi, Thryve.Earth sebelumnya menggarap proyek restorasi lanskap hutan 6.000 hektare di Sulawesi bersama Masarang Foundation. Proyek penanaman tujuh juta pohon itu disokong pendanaan Symbiosis Coalition yang melibatkan Google, McKinsey, dan Tencent.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Gorontalo menegaskan program ini perlu mematangkan studi kelayakan potensi lahan, kesesuaian tanaman, kesiapan petani, hingga skema pembagian manfaat yang jelas.(*)






