ADV Honda

Miris, 56,9% Warga Gorontalo Punya Masalah Gigi Tapi Cuma 11,2% yang Periksa ke Dokter

141
×

Miris, 56,9% Warga Gorontalo Punya Masalah Gigi Tapi Cuma 11,2% yang Periksa ke Dokter

Sebarkan artikel ini
Promo Digimedia
Iklan akan Menutup Dalam 6 detik
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Anang S. Otoluwa memberikan arahan saat pelatihan deteksi dini penyakit gigi dan mulut bagi nakes puskesmas di Hotel Aston, Kota Gorontalo.

KESEHATAN – Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sebanyak 56,9 persen penduduk usia tiga tahun ke atas di Gorontalo mengalami masalah gigi dan mulut, namun hanya 11,2 persen yang menerima perawatan medis.

Rendahnya angka periksa medis tersebut memicu tingginya kasus kerusakan gigi di Gorontalo. Tingginya angka masalah kesehatan gigi ini menempatkan kasus tersebut pada posisi kedua terbanyak setelah penyakit hipertensi.

Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) per 16 Oktober 2026, sebanyak 71.830 warga usia 18 tahun ke atas atau 24,65 persen mengalami karies gigi dari total 291.443 orang yang diperiksa.

Selain karies, CKG mencatat 49.820 warga dewasa mengalami kehilangan atau pencabutan gigi. Sementara pada kelompok usia 25 tahun ke atas, sebanyak 7.528 warga teridentifikasi mengalami kondisi gigi goyang.

Data pemeriksaan CKG juga menemukan 5.320 warga Gorontalo memiliki pocket periodontal. Kondisi tersebut ditandai dengan terbentuknya kantong abnormal di antara gigi dan gusi yang berpotensi menjadi penyakit periodontal.

Masalah kesehatan gigi juga ditemukan pada kelompok anak-anak. Dari 87.679 anak yang telah diskrining, sebanyak 36.698 anak atau 41,85 persen terbukti mengalami karies gigi di wilayah Gorontalo.

Dari total anak yang mengalami karies, sebanyak 30.350 anak memiliki satu hingga tiga gigi karies. Sementara itu, 6.348 anak lainnya tercatat menderita lebih dari tiga gigi karies.

Pemeriksaan sejak usia dini dinilai sangat penting agar kerusakan gigi dapat diketahui serta ditangani sebelum berkembang lebih lanjut. Data tersebut mendorong pemerintah memperkuat pelayanan promotif dan preventif.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo memperkuat upaya deteksi dini penyakit gigi dan mulut melalui pelatihan bagi tenaga kesehatan puskesmas dan diikuti oleh 30 tenaga kesehatan pengelola program kesehatan gigi dan mulut dari puskesmas, yang terdiri atas dokter gigi serta terapis gigi.

Dari pelatihan tersebut, tenaga kesehatan diharapkan mampu meningkatkan keterampilan pemeriksaan, mengenali masalah kesehatan sejak dini, memberikan edukasi, serta memastikan tindak lanjut pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menekankan bahwa pelatihan harus diikuti dengan peningkatan pemeriksaan gigi dan mulut secara langsung di lapangan. Tenaga kesehatan juga diharapkan aktif memberikan edukasi agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut semakin meningkat.

“Yang paling penting adalah setelah pelatihan ini para peserta bisa meningkatkan pemeriksaan gigi dan mulut di lapangan juga memberikan edukasi pada masyarakat,” kata Anang, Jumat (16/10/2026).

Anang menambahkan, hasil CKG menunjukkan masalah kesehatan gigi dan mulut menempati urutan kedua setelah hipertensi, sehingga membutuhkan perhatian serius dari seluruh jajaran pelayanan kesehatan di wilayah Gorontalo.

Pelatihan yang berlangsung pada 15–21 Oktober 2026 ini diikuti oleh 30 tenaga kesehatan pengelola program kesehatan gigi dan mulut dari puskesmas, yang terdiri atas dokter gigi serta terapis gigi.(*)

Honda Krida Shine Effect
Honda Krida
UMGO